Memahami Tujuan Idiologi Sebagai Wadah Perjuangan

Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif, ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit, idioligi adalah satu satunya landasan pergerakan politik untuk mendekatkan da sollen dan da sain. Berangkat dari ini maka partai politik hanyalah kendaraan dimana antara satu dan lainnya mempunyai chiri yang khas.
Partai politik bukanlah idiologi yg dapat dianut sebagai sebuah paham maupun tujuan perjuangan. Dengan kata lain bahwa belajar mengerti tentang idiologi agar kita tidak kehilangan kompas ditengah dataran juang yg luas, mampu bergerak progressive sejalan tuntutan dan tantangan jaman.  Bertahan untuk tetap mempunyai semangat juang di tengah berbagai tekanan dan perbedaan. Jadi adalah aneh apabila bagi segelintir orang bahwa idiologi adalah partai ataupun kaum dan partai adalah sebuah isme yg kemudian tanpa dia sadari kemudian menjadikannya bagaikan katak di dalam tempurung.

Catatan Pinggir : Kasus Kekerasan Yang Mengatasnamakan Agama dalam Perspektif Pancasila

“Sejak tahun-tahun awal kemerdekaan, Bung Karno membiarkan seribu bunga tumbuh mekar di tamansari puspa bangsa. Tan Malaka mengguratkan ideologi sosialis (komunis) yang lebih militan, ketimbang sosialis demokrat ala Syahrir yang pragmatis, bahkan cenderung kompromistis. Bung Karno sebagai Bapak bangsa membiarkan Indonesia menganut ideologi (Pancasila) yang terbuka, membiarkan semua konsepsi paham ideologis tumbuh mekar menghiasi tamansari puspa bangsa. Di situlah dialetika sejarah bangsa dipertaruhkan. sepanjang tahun 1945-1965, Bung Karno konsisten mengawal dan menjaga tamansari puspa bangsa, tempat bersemainya pergulatan pemikiran ideologis kebangsaan yang terjadi amat intens dan dinamis, sampai pada akhirnya anasir anasir asing (intelejen CIA) ikut nimbrung dalam dialetika revolusi 1945, dan mulai menebarkan kakitangannya di tubuh bangsa. Klimaks dari ini, pengaruh anasir asing makin vulgar dan lalu mengadu domba komponen bangsa yang berpuncak pada tragedi kelabu peristiwa G-30-S 1965. Luka trauma pada tubuh bangsa masih terasakan hingga saat ini. Peristiwa tragedi itu, sampai hari ini, dikenang sebagai kontroversi sejarah yng tiba tiba saja digembok dan belum sempat dimaknai dengan satu tafsir kebenaran”

Salam Kenal

josua_demokrat “pada intinya setiap kekuasaan memiliki cita cita luhur walau sekecil apapun cita cita dan keluhuran itu, jika kemudian terjadi gesekan, sepanjang untuk mewujudkan keluhuran cita cita tersebut maka hal itu adalah keniscayaan yang harus di hormati”